Motor MotoGP Manual atau Matic, Simak Faktanya!

Pernah bertanya-tanya motor motoGP manual atau matic? Wajar saja, mungkin para penonton tidak pernah melihat pembalap motoGP menekan tuas kopling saat berkendara. Hal ini, tentu akan banyak membuat pemikiran jikalau motor yang digunakan untuk balapan di dalam sirkuit motoGP menggunakan sistem kerja matic.

Sebenarnya, motor yang dipakai pada motoGP termasuk dalam kategori motor manual. Hanya saja terdapat beberapa perbedaan terkait dengan sistem kerjanya. Tentu saja hal ini berhubungan dengan kebutuhan kecepatan dan ketangguhan ketika berlaga pada sirkuit balapan. Lalu, apa saja fakta tentang motor yang dipergunakan pada motoGP?

1. Hanya Menarik Tuas Kopling Sekali

Apabila penonton sering melihat pembalap motoGP tidak pernah menarik tuas kopling saat sedang bertanding, itu memang benar adanya. Pasalnya, penggunaan tuas kopling hanya dilakukan saat sebelum start saja. Hal itu, hanya dimaksudkan supaya mesin tidak mati .

Setelah motor sudah melaju ke arena sirkuit, fungsi kopling diambil alih oleh quickshifter. Memang, pada umumnya ketika pemindahan gear, tuas kopling akan ditekan. Hal ini, bertujuan agar tuas transmisi dapat ditekan dan terjadi pergantian gear. Akan tetapi, dalam dunia balap motor, sangat disayangkan waktu dalam milisecond terbuang percuma hanya untuk menekan kopling dan mengganti gear.

2. Memakai Quickshifter

Inilah jawaban dari apakah motor motoGP manual atau matic. Quickshifter dipilih sebagai pengganti tugas dari kopling. Telah diketahui sebelumnya, jika pada motor balap motoGP tidak perlu menekan tuas kopling. Quickshifter dapat bekerja dengan cara memutuskan putaran mesin langsung ke gearbox.

Ketika quickshifter bekerja membuat mesin mati sesaat, mesin tidak akan menghasilkan tenaga. Pada saat itulah, gear dapat berpindah. Sementara, kopling memutus putaran mesin dalam kondisi mesin tetap hidup.

3. Mematikan Mesin terjadi hanya Hitungan Milisecond

Konsep mematikan mesin pada motor motoGP adalah dengan cara memutus aliran listrik yang menuju busi. Mesin bisa mati akibat tidak terjadi pembakaran. Jeda waktu yang dipakai pada saat mesin dimatikan terjadi hanya dalam beberapa millisecond saja.

Waktu tersebut lebih cepat dibandingkan dengan menekan tuas kopling dan menekan pedal shifter. Waktu pemutusan aliran listrik terjadi ketika tuas pemindah gear yang terhubung lever ditekan. Lever tersebut terhubung sensor yang kemudian sensor tersebut mengirim sinyal ke ECU untuk memutus arus yang menuju busi.

4. Pakai Kopling Kering bukan Kopling Basah

Motor pada motoGP menggunakan kopling kering bukan kopling basah. Alasannya supaya power dapat ditransfer dari mesin ke transmisi. Lalu, dapat diteruskan menuju ke roda belakang.

Disebut dengan kopling kering dikarenakan kampas kopling tidak terlumasi oli seperti halnya pada kopling basah. Hal itu, juga menjadi alasan dipilihnya kampas kopling kering pada motor motoGP. Tiada pelumas oli, maka hambatan yang disebabkan karena oli pun akan berkurang. Dengan demikian, akan lebih efisien tenaga dari mesin yang terbuang.

5. Penggantian Gigi Lebih Sedikit

Terdapat 2 rangkaian kopling yang saling berhubungan. Pada motor motoGP penggantian gigi dicatat lebih sedikit. Pasalnya, penggunaan seamless gearbox delay bisa membuat motor tersebut tidak harus banyak melakukan pemindahan gear.

Ketika gear pada posisi 3 dipindah ke 2, secara bersamaan garpu pemindah dari gear 3 akan lepas dan garpu pemindah akan terhubung dengan gear ke 2. Seamless gearbox juga menerapkan dog clutch. Hal itu, menyebabkan motor tidak perlu menggunakan synchromesh untuk menyelaraskan putaran gear input dengan gear output.

Itulah, fakta yang terjadi pada motor motoGP terkait pertanyaan motor motoGP manual atau matic. Ternyata memang dilengkapi dengan kecanggihan teknologi otomotif yang membuatnya seperti matic, padahal termasuk motor dengan sistem manual.

 

Bagikan: